Mlaku-Mlaku Nang Semarang (Day1)

Sebagai warga Jateng, belum halal rasanya jika belum menapakkan kaki di Ibukotanya yang terkenal dengan tembang "Semarang kaline banjir jo semelang rak dipikir~~~" Sejak gw lahir sampe segede ini, malu rasane rak tau ngambah ibukotane dhewe. Negeri lain sudah dipijak, semarangku urung ditapak. :(

Dari obrolan ringan yang tadinya cuma iseng ngomentarin status bbm temen gw, si Apri, yang kepo long weekend gak kemana-mana. Malah mengarahkan pembicaraan dengan nyeletuk, "Semarang yuk!" Gak pikir panjang saat itu juga langsung kroscek kereta dan langsung beli. Hahaha...

Gw berangkat dari Stasiun Senen dengan jadwal kereta jam 23.00. Sedangkan Apri berangkat dari Tegal jam 05.00. Rencana kita pun bertemu di Semarang pukul 07.00. Begitu ketemu di Stasiun Semarang Poncol, kita sama-sama melongo dan saling tanya "terus mau kemana?"

Hahaha. Baru kali ini gw pergi tapi gak tau mau kemana tujuannya. Di stasiun kita pun berfikir untuk mengunjungi salah satu objek wisata di Watugong, Vihara Buddhagaya. Keluar stasiun, kita ambil jalan belok kiri lalu mencari halte BRT. Setelah bertanya-tanya pada mbak kondektur yang manis dan super duper ramah, katanya untuk menuju Watugong kita harus naik 2x BRT. Dan kita pun di drop di salah satu halte transit sebelum akhirnya mendapat BRT yang menuju Watugong.

Watugong
Vihara atau Pagoda ini jalurnya mengarah ke Ungaran. Dan berada persis di pinggir jalan besar dan tepat di depan Markas Kodam IV Diponegoro. Wilayah ini dinamakan Watugong karena ditemukannya batu yang berbentuk Gong. Komplek Pagoda ini memiliki luas 2,25 hektar. Dan begitu memasuki areal ini, gw jadi sedikit tergelitik dengan perjalanan gw tahun lalu. Jauh-jauh ke Thailand, ternyata di Semarang juga ada. -_-

Dewi Kwan Im



Buddha tidur
Memasuki objek wisata yang satu ini, kita tidak dikenakan biaya tiket masuk alias free. Hanya saja kita diminta kesadarannya untuk memberi donasi seikhlasnya untuk perawatan dan penjagaan areal wisata ini. Selain menjadi tempat wisata, tempat ini juga dijadikan sebagai tempat ibadah, maka kita pun jika memasuki area ini harus saling menghargai dengan berpakaian sopan dan tidak membuat kegaduhan. Apalagi membuang sampah sembarangan. Ingat, harus saling menghargai!

Yang menarik di dekat patung dewi Kwan Im terdapat pohon yang sangat rindang dan berisi lembaran-lembaran merah yang ada tulisan china-nya. Dan dibalik itu ada berbagai macam doa dan harapan dari para pengunjung Vihara ini. Buat yang mau mencoba menggantungkan harapan di lembaran tersebut, boleh dicoba. 

Berasa lapar pagi-pagi belum sarapan langsung kelayaban ke Watugong, gw dan Apri pun melipir ke salah satu ibu yang membuka kedai di dekat Pagoda. Semangkuk mie goreng dan sebuah gorengan pun ludas menepi ke perut gw yang keroncongan. Jauh-jauh maemnya tetep indomie seleraku~~ 

Nah! hal menarik dari perjalanan gw ke Watugong adalah mencari jalan pulang. Kita dibuat bingung dengan arah pulang dan bus BRT yang tak kunjung datang ketika menunggu di salah satu halte didepan Markas Diponegoro. Sekitar 2x BRT lewat, namun tak ada satupun yang berhenti di halte yang kita tunggu. 

Siang bolong, tak ada satu orang pun yang bisa ditanya. Akhirnya kita pun memutuskan jalan kaki yang lumayan jauh untuk dapat menempuh halte BRT selanjutnya. Sembari bertanya-tanya, kenapa tak ada satu pun bus yang berhenti di halte BRT yang tadi kita tunggu. 

Jarak halte BRT selanjutnya lumayan jauh, begitu sampai di halte tersebut, salah satu kondektur bus yang tadi menurunkan kita di halte watugong langsung cengar-cengir. "lho kok kalian lagi, kalian mau kemana tho?"  Disitu perasaan kita udah campur aduk, capek, bingung, pengen traveling, tapi gak tau lewat mana, gak ada bus yg berhenti, mau nangis. 

Sebenarnya tujuan kita setelah dari Watugong adalah ke Goa Kreyo. Namun, ketika keluar dari Pagoda, kita bertanya ke beberapa orang yang berbeda, namun jawaban mereka pun beda-beda pula. Dan kita pun dibuat bingung mau ke arah mana. Akhirnya si pak kondektur ini berbaik hati mau menjelaskan arah yang sebenarnya. Dan karena kita fikir arah ke Goa Kreyo lumayan memakan waktu perjalanan -setelah mendengar penjelasan pak kondektur- akhirnya kita memutuskan untuk mengunjungi objek wisata lain. 

Ketika kita bertanya pada si bapak ini, kenapa di halte yang tadi kita tunggu tak ada satupun bus yang berhenti, beliau menjelaskan mungkin karena track jalan yang agak menikuk dan menurun, tak ada bus yang mau berhenti. Karena jalur tersebut merupakan jalan besar yang biasa dilalui bus-bus besar dengan kecepatan tinggi, agak khawatir jika tiba-tiba berhenti sedangkan kendaraan lain dibelakang melaju dengan sangat cepat.

Perjalanan hari pertama di Semarang belum kelar. Kita pun menuju rute BRT selanjutnya untuk melaju ke situs terdaparnya eyang kakung Laksamana Cheng Ho. Iyak, kemana lagi kalo bukan Klenteng Sam Poo Kong. Dari halte tempat kita naik tadi untuk menuju Sam Poo Kong, kita naik 2x BRT dan 1x angkot + jalan kaki. Intinya mah kita di Semarang wisata sehat. Serba banyaak jalan kaki T_T .

Begitu memasuki gerbang masuk Klenteng ini, kita disambut oleh Cici & Koko yang lagi nyanyi di hall utama. Iya, ternyata disini lagi superrr rameee banget. Lagi ada acara sepertinya. Oh iya, tiket masuk klenteng ini dibanderol Rp 10.000,- 





Karena gw gak terlalu suka dengan yang namanya keramaian, gw pun melipir ke salah satu sudut dibawah pohon sembari menenangkan otak yang super panas oleh cuaca Semarang hari itu. Panass bangett.. Mbok, Semarang keringet'e banjir lak iki :(

Panas-panas gini, gak afdol rasanya kalo gak nenggak yang dingin-dingin, iya dong? Berhubung lagi banyak acara, banyak pula yang jualan. Gw pun inisiatif mencari yang segar-segar dan bisa melegakan tenggorokan. Mata gw tertuju pada salah satu ibu yang menjual es dengan sebutan "Es Kuwud" yang diclaim oleh ibunya ini adalah minuman paling segar dengan potongan buah, selasih, dan perasan jeruk nipis ini berhasil menggoda gw buat beli.

Begitu gw dan Apri beli masing-masing satu gelas yang mana ini minuman isinya banyakan es batunya. Satu tenggak pertama, berhasil bikin gw sama Apri saling lirik-lirikan. Dan spontan gw pun nyeletuk, ini sih air kobokan dikasih selasih sama pepaya mentah. Dan kita pun tertawa geli tapi tetep diminum saking hausnya :DD 


The greatest and phenomenal beverages
Wisata Semarang kali ini kok dari tadi rasanya seperti wisata religi. Dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lain. Setelah dua tempat tadi, melipir lah kita ke Masjid Agung Jawa Tengah yang sudah kita incar sebagai tempat kunjungan terwajib ke Semarang. 

Karena sudah ngidam-ngidam mau kesini, yang kesannya kita lagi ada di Masjid Nabawi. Eaaa mudah-mudahan beneran ke Masjid Nabawi, Aamiin. Perjalanan kesini ternyata butuh perjuangan yang lebih dibanding perjalanan dua tempat wisata tadi. Untuk menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah ini, setelah turun dari BRT kita melanjutkan dengan jalan kaki -tadinya ngiranya deket, taunya gempor-. Ada mungkin sekitar lebih dari 30 menit. Gak ada angkot lewat sepanjang kita jalan. Dan ketika kita tanya ke ibu-ibu, katanya jalur ini memang bukan jalur angkot T_T.

Begitu tanda-tanda penampakan masjid sudah didepan mata, kita pun bersyukur. Dilanjutkan dengan sholat disana. Berhubung waktu itu gw lagi gak sholat. Gw cuma mejeng di pelataran sambil nungguin Apri sholat sambil foto-foto. Ini masjid indah banget, Masha Allah. 


Apri kelar sholat pun eksis :D

Selain mengelilingi areal masjid, kita juga bisa naik ke salah satu tower masjid disana. Dan pemandangan dari atas sana pun tidak kalah indahnya. Kita bisa melihat kota Semarang dari kejauhan. Dan sekali lagi, rasa kagum itu tidak pernah sirna. 


Berada di masjid ini, jam pun sudah menunjukan pukul 17.30 dan kita harus segera bergegas. Jangan sampai malam-malam masih jalan kaki mikirin jalan pulang. Karena kaki kita berdua sudah very very very njareeemm, yang rasanya sudah gak mungkin untuk jalan kaki lagi menuju halte BRT. Begitu melihat abang becak, gak pake tawar-menawar kita pun langsung naik. Dan berharap ini kaki segera membaik nanti malam. 

Kita pun naik BRT menuju hotel. Kebetulan kita memesan Hotel Ibis yang berada dekat Jalan Pemuda. Dekat juga dari Paragon. Jadi tidak begitu jauh jika kita mau jalan-jalan malam. Turun dari BRT sembari jalan ke hotel, persis di depan Paragon Mall kita melipir ke angkringan. Kita membeli 4 nasi kucing, 8 gorengan, dan 2 es jeruk dengan harga 19 ribu. Rasanya enak. Harganya Murah. Kontras banget dengan pemadangan di seberangnya. Kalo lain kali ke Semarang, gw rasanya bakal mampir ke angkringan ini. Rasanya Endesss! Bisa dicoba kalo lain kali kesana lagi.

Komentar

  1. Belum pernah ke Semarang dan yang pernah saya dengar dari semarang cuman Lawang sewu. Ternyata masih banyak tempat yang bisa dikunjungi setelah membaca tulisan ini. Ohya, salam kenal :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Most Common

Kucing Hutan di Kalimantan

JJS Taman Kota Air, Kapuas Kalimantan Tengah

Trip Murah Singapore 3D3N 1,6 Juta

Mau sampai kapan bertahan dengan 'Bad Boys' ?

Yuk, Mengenal Lebih Baik Otak Pria dan Wanita

Memenangkan Kembali Hati Yang Telah Pergi

Express Camping ala Gunung Pancar

Tempat Sholat di Singapore

Mlaku-Mlaku Nang Semarang (Day2)